Senin, 19 Maret 2012

Ahok, dari Belitung ke Jakarta

VIVAnews - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Gerindra "mengawinkan" Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012. Kemarin sore, keduanya resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta.

Bagi sebagian orang, nama Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, barangkali sudah tidak asing lagi. Kisah suksesnya pemimpin Solo banyak dibicarakan orang. Lalu bagaimana dengan Basuki Tjahaya Purnama?

Siapakah pria yang kerap disapa dengan sebutan Koh Ahok ini? 

Bernama asli Zhong Wan Xie, pria kelahiran Manggar, Belitung Timur pada 29 Juni 1966 itu menghabiskan masa kecilnya di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, salah satu kecamatan di Kabupaten Belitung Timur. Beberapa tahun terakhir, tempat kelahirannya ini sangat terkenal setelah penulis Andrea Hirata menuliskannya dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Ahok melewati pendidikan dasar dan menengah pertama di Gantung. Ia lalu melanjutkan Sekolah Menengah Atas dan perguruan tinggi di Jakarta.

Sejak lulus kuliah di Teknik Geologi Universitas Trisakti, suami Veronica ST dan ayah tiga anak ini bekerja sebagai staf direksi analisa biaya dan keuangan proyek pada perusahaan kontraktor PT Simaxindo Primadaya di Jakarta. Namun karena ingin konsentrasi di Belitung, tahun 1995 Ahok memutuskan berhenti bekerja dan pulang ke kampung halaman.

Pada tahun 1992, seperti dituliskan Wikipedia, Ahok mendirikan PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS) pada tahun 2005. Perusahaan ini memikili visi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh. Usahanya berhasil dan membuat seorang investor Korea mempercayakannya untuk membangun Tin Smelter (peleburan bijih timah) di Kawasan Industri Air Kelik (KIAK) pada 2004. Investor asing asal Korea ini tertarik dengan konsep yang ditawarkan Ahok. Merasa puas dengan pencapaian itu, Ahok pun menyeberang ke bidang lain.

Ahok mulai menaruh minat pada dunia politik. Masuknya Ahok ke dunia politik mengikuti saran sang ayah yang menilainya lebih cocok menjadi pejabat. Namun di Indonesia sendiri, etnis Tionghoa yang terjun ke dunia politik bisa dihitung pakai jari.

Perwakilan Komunitas Glodok Hermawi Taslim, dalam diskusi beberapa waktu lalu pernah menyebut banyak etnis Tionghoa yang memilih profesi sebagai pedagang karena takut berpolitik. "Karena itu tidak ada pilihan lain. Berdagang kan tidak ada aturannya," ucap Hermawi.

Hal ini juga diamini Ketua Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa Ester Yusuf yang mengatkan bahwa ada trauma besar yang dialami etnis Tionghoa dalam berpolitik. Karena banyak etnis Tionghoa yang ikut berpolitik, kemudian hilang.

Namun anggapan itu dipatahkan Ahok.  Sejak pertama kali bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) pada 2004, karir politik Ahok terus menanjak. Ahok memulai kiprah politiknya sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009 melalui PPIB

Dia juga ambil bagian pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Belitung Timur Tahun 2005-2010. Saat itu Ahok berpasangan dengan Khairul Effendi dan berhasil mengantongi suara 37,13 persen. Dengan suara sebesar itu, pasangan ini terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belitung Timur definitif pertama.

Saat masih menjabat bupati, Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia, KADIN dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, memberinya penghargaan. Ahok dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara Negara. Ahok dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah pada saat ia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur

Tidak puas kursi Bupati, pada pilkada gubernur Bangka Belitung 2007, Ahok sempat ambil bagian sebagai kandidat calon gubernur. Namun meski mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid pernah ikut berkampanye untuknya pada Pilgub Bangka Belitung, peruntungan belum berpihak padanya. Ia dikalahkan pasangan Eko Maulana Ali-Rustam Effendi.

Meski begitu karir politiknya terus melaju. Ia bergabung dengan Partai Golkar dan terpilih sebagai anggota DPR. Partai Golkar menempatkannya di Komisi II dan ia dipercayakan mengemban posisi Wakil Ketua Komisi II DPR.

Perjalanan karir politisi ini berhasil menarik perhatian Partai Gerindra. Ahok dinilai berpotensi mendampingi Jokowi sebagai calon wakil gubernur DKI. Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani Muzani menilai mantan politisi Partai Golkar itu sebagai tokoh etnis Tionghoa yang dapat mewakili etnis itu di Jakarta.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto optimistis Ahok dapat bekerjasama dengan Jokowi untuk mengatasi masalah Jakarta. Dua figur ini dianggap calon yang bersih dan tidak memiliki masalah. (umi)



• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar