Senin, 19 Maret 2012

Cap Jempol Darah Tolak Kenaikan Harga BBM

VIVAnews - Aksi menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak terus terjadi di berbagai daerah. Di Bekasi, Jawa Barat, Senin 19 Maret 2012, sejumlah mahasiswa dan sopir angkutan kota menggelar aksi unjuk rasa. Mereka membubuhkan cap jempol darah di atas sebuah spanduk sebagai simbol penolakan.

Aksi cap jempol darah itu dilakukan di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Putih Bani Saleh di Jalan KH Agus Salim Bekasi Timur. Pantauan VIVAnews, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Nasional Indonesia (Imani) dan Persatuan Sopir Angkot K-12 membubuhkan cap jempol darah di sebuah spanduk putih.

"Aksi ini kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita melawan atas kebijakan SBY-Boediono yang salah," kata Koordinator Imani, Sirojudin. Hingga sat ini, ada sekitar 15 orang yang telah membubuhkan cap jempol darah di atas spanduk putih berukuran 1x1 meter itu. Namun, jumlah itu kemungkinan akan terus bertambah. Mereka akan menggalang dukungan hingga 27 Maret 2012 mendatang.

"Spanduk yang sudah dibubuhi cap jempol darah ini, juga akan kita bawa pada aksi besar-besaran menolak kenaikan harga BBM di Istana Negara pada hari Selasa 27 Maret nanti," ujar Sirojudin.

Menurut Sirojudin, kenaikan harga BBM akan membuat rakyat kecil semakin sulit. Karena akan diikuti dengan melambungnya harga kebutuhan lainnya. "Sudah pasti harga sembako, listrik, pendidikan dan kesehatan juga akan ikut naik," kata mahasiswa dari Universitas Yarsi Jakarta tersebut.

Selain mendesak agar pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga BBM, Imani juga mendesak agar pemerintah segera menasionalisasikan aset asing yang menguasai minyak dan gas di Indonesia. "Kita menghimbau agar masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke untuk melayangkan mosi tidak percaya kepada SBY-Boediono," tambahnya.

Sementara itu, Decky (32) sopir angkot K-12 jurusan Terminal Bekasi-Kampung Cerewet, mengaku sangat keberatan atas rencana kenaikan harga BBM ini. Kenaikan ini, kata dia, otomatis ongkos angkutan umum juga akan dinaikkan. "Penumpang rata-rata cuma bayar Rp2.000. Kalau diminta lagi mereka menolak, padahal itu ongkos resmi. Saya nggak tau bagaimana reaksi penumpang, kalau tarif dinaikkan lagi," ungkapnya. (eh)

 



• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar