Rabu, 02 Maret 2011

Di DKI Bus Mengangkang Bisa Tanpa Rel

VIVAnews - Berbeda dengan di China, di Jakarta moda bus-mengangkang bisa diterapkan tanpa menggunakan rel. Ruas-ruas jalan yang ada saat ini di Ibukota bisa langsung dimanfaatkan tanpa harus membangun infrastruktur baru.

"Di China, bus mengangkang akan beroperasi Juni 2011 dan menggunakan rel. Jika DKI tidak mau membangun infrastruktur rel, bisa menggunakan roda seperti bus biasa," kata Leo Kusima, Komisaris PT Alpha Beta Gamma (ABG), perusahaan pemegang lisensi sistem bus-mengangkang dari China kepada VIVAnews.com.

Untuk itu, Pemerintah DKI Jakarta tinggal menambah kekuatan jalan karena bobot bus itu sangat berat. "Satu gerbong bus beratnya 36 ton yang membutuhkan jalan yang lebih kuat," katanya.

Selain itu, Leo melanjutkan, infrastruktur lainnya di Jakarta--seperti jalan layang atau jembatan penyeberangan--juga tidak perlu dibongkar dan diubah. "Kami sudah perhitungkan, tinggi flyover dan jembatan itu lima meter, sedangkan tinggi bus hanya 4,5 meter," kata dia.

Direktur Utama PT ABG Isen Kusima mengatakan DKI hanya tinggal membangun infrastruktur halte dan depo. "Saya kira membangun infrastrukturnya tidak begitu mahal," katanya.

Menurut Isen, biaya dan waktu pembangunan yang diperlukan sistem bus-mengangkang jauh lebih murah dibandingkan moda Mass Rapid Transit (MRT). "Sebelum MRT selesai 2016, Jakarta sudah macet total. Ini perlu penanganan segera," katanya.

Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih mempelajari konsep yang ditawarkan investor China ini. Konsep ini ditawarkan sebagai salah satu solusi mengatasi macet di Jakarta. Seperti apa bus-mengangkang beroperasi bisa dilihat di video ini.

Asisten Bidang Perekonomian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Hasan Basri Saleh menyatakan, DKI tak ingin gegabah memilih karena sebelumnya belum pernah ada satupun negara yang menerapkan moda transportasi massal jenis ini. "Prinsip kami, kalau mau menerapkan teknologi harus yang sudah teruji, misalnya kereta api. Tidak bisa sesuatu yang baru diuji langsung diadopsi begitu saja," ujar Hasan.

Kata Hasan, pemerintah DKI akan melihat dulu pengoperasian moda ini di China, yang juga merupakan salah satu negara dengan problem kemacetan terparah di dunia. (kd)

• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar