VIVAnews - Dua jam sebelum ditemukan, Hulama Pardede, sopir taksi yang tewas di gorong-gorong Jalan Mayjen Sutoyo Nomor 11, depan PT Asabri Cililitan Jakarta Timur, diketahui menerima telepon dari seseorang yang meminta jasa tumpangan taksi.
Hulama Pardede ditemukan tewas dengan 10 luka tusuk terutama di bagian kepala, kemarin pagi.
"Keterangan dari saksi Hendri Panjaitan (keponakan korban), pukul 04.00 WIB korban masih menerima telepon dari penumpang," ujar Kepala Bagian Humas Polres Jakarta Timur Komisaris Didik Hariyadi kepada VIVAnews.com, Senin 5 Desember 2011.
Didik melanjutkan ketika dihubungi oleh isteri korban pada pukul 04.30 WIB melalui telepon seluler, korban sudah tidak bisa dihubungi.
"Pukul 00.00 WIB korban ada di rumah dan pada pukul 04.00 WIB setelah mendapat telepon korban berangkat dengan membawa taksi," katanya.
Menurut Didik, berdasarkan saksi Hendri, korban tidak mempunyai permasalahan dengan keluarga. Saksi yang pertama kali menemukan taksi tersebut, ungkap Didik, adalah anggota Unit Lantas Kramat Jati Bripka Kurdim pada pukul 06.30 WIB saat sedang bertugas di sekitar lokasi.
Diduga korban tewas belum lama setelah ditemukan. "Berdasarkan keterangan saksi Julianto, satpam PT Asabri, pukul 06.00 WIB dia tidak melihat ada taksi parkir di depan kantor."
"Saksi mengetahui taksi tersebut parkir setelah di TKP (tempat kejadian perkara) banyak warga masyarakat berdatangan," katanya.
Sampai saat ini, lanjut Didik, Polisi masih melakukan pendalaman, apakah ini perampokan atau memang ada motif lain. "Masih kami lakukan penyelidikan, belum bisa dipastikan motifnya. Sedang dipelajari berdasarkan keterangan saksi," ucap Didik.
Penumpang misterius yang terakhir kali menumpang taksi dari perusahaan Koperasi Taksi Nomor Polisi B 1211 FTA, dengan nomor body 312 ini pun belum ditemukan." Itu juga sedang kami lacak, siapa penumpang terakhir yang menumpang," ucap Didik. (adi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar