VIVAnews - Saat bulan Ramadan, istilah ngabuburit sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia yang istilahnya ternyata berasal dari bahasa Sunda. Burit artinya waktu menjelang malam hari atau magrib.
Jadi ngabuburit selama bulan puasa adalah menunggu waktu hingga menjelang waktu adzan magrib berkumandang. Banyak orang mengakali ngabuburit dengan berbagai kegiatan hingga mereka lupa akan rasa lapar dan haus selama berpuasa.
Mulai dari sekedar menonton televisi di rumah hingga jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Lokasi yang banyak dipilih biasanya tempat yang dianggap tepat untuk bersantai.
Sedangkan untuk berbuka puasa tempat seperti kafe dan mall masih jadi tren dengan peminat pengunjung. Warga Metropolitan beberapa tahun belakangan ini sedang gandrung dengan suasana dan ragam kuliner yang disuguhkan Kopitiam. Kini, ngabuburit dan berbuka puasa di Kopitiam punya gengsi tersendiri, terutama bagi para sosialita ibukota.
Kopitiam adalah istilah yang digunakan untuk kedai kopi di Malaysia dan Singapura. Gerai ini terkenal dengan tipikal varian menunya, seperti teh tarik, kari ayam atau sapi yang dipadukan dengan mie, nasi atau roti, dan tentu saja kopi sebagai menu jagoannya.
Dini, 25, seorang karyawan swasta yang bekerja di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, mengaku lebih menyukai suasana Kopitiam dibanding mall untuk pilihan berbuka puasa.
"Kalau buka puasa di mall, pasti ramainya minta ampun, belum lagi waktu menjelang buka puasa jalanan pasti sangat macet. Kalau di Kopitiam, suasananya lebih tenang, nyaman, pilihan menunya juga cocok dengan saya dan rekan-rekan kerja yang rata-rata penggemar kopi," ujar Dini saat berbincang dengan VIVAnews.com.
Namanya saja kedai kopi, sebagian minuman yang ditawarkan adalah kopi. Mulai dari kopi vietnam, kopi toebroek Djawa, kopi saring Aceh, kopi susu Indocina juga wedang jahe.
Untuk makanannya, selain roti bakar, ada pula roti telur Belanda, roti selai, roti panini, bubur ayam, gado-gado, sate ayam, sego ireng hingga lontong tjapgomeh.
Dini dan sejumlah temannya mengaku sudah mendatangi beberapa Kopitiam yang berada di Jakarta, seperti di daerah Sabang, Jakarta Pusat, Tebet, Jakarta Selatan, serta Kopitiam Oey Salihara, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Dengan ragam menu yang ada, dia mengaku tak perlu membayar mahal seperti makan di restoran-restoran di pusat perbelanjaan terkenal di ibukota.
"Menu favorit saya jika ke kopitiam adalah roti berlapis selai dan keju beserta setangkup panini, untuk minumannya saya suka es kopi sisilia atau es teh mint, khas Kopitiam Oey," ungkapnya.
Suasana Kopitiam Oey sangat kental dengan gaya rumah tempo dulu. Deretan jendela-jendela kayu dan kedua pilar di pintu masuknya memperkuat kesan jadul (jaman dulu).
Kemudian, diantara dua pilar merah menyala ada di pintu masuk. Yang menarik, langit-langit bangunan kopitiam Oey ini cukup tinggi berhiaskan lampu-lampu dalam sangkar burung yang ditutup sehelai kain warna merah. Membuat pancaran cahaya tidak terlalu kuat menerangi para pengunjung yang sedang menikmati kopi di kursi-kursi kayu sederhana.
Selain kopitiam Oey, yang merupakan milik pembawa acara program wisata kuliner di salah satu televisi swasta, Bondan Winarno, ada sejumlah kopitiam lainnya dengan tawaran suasana yang tak kalah istimewa.
Sebut saja Kiliney Kopitiam yang terletak di Central Park, Sampoerna Strategic Square, Gandaria City dan World Trade Center Sudirman. Atau jika ingin menikmati kopitiam yang ramai dikunjungi para backpacker dan turis asing, datang saja ke KL Village Kopitiam di Jalan Jaksa, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Masih bingung mau santap berbuka puasa dimana? Silakan pilih lokasi kopitiam yang dekat dengan kantor atau tempat tinggal Anda.
Selasa, 02 Agustus 2011
Trend Berbuka Puasa di Kopitiam
Secangkir kopi (inmagine)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar